Apakah Cinta Harus Saling Memiliki?

 


Hai pembaca setiaku, sudahkah hari-harimu dipenuhi CintaWah tertumben nih penulis mau update tentang sebuah virus yang namanya cinta di blog ini. Ampura gih pembaca setiaku bila blog saya garing dan tak ada hal-hal baru. Hehehe

Kali ini tulisanku hmmm bisa jadi efek aura Sang Penyair Berdarah merasuki atau mungkin dikarenakan melihat kisah cinta anak muda saat ini, terkadang orang dewasa pun merasakannya, wkwkwk. Yang ingin aku bahas kali ini adalah sebuah kalimat yang mungkin sudah sering sekali kita dengar yaitu “Cinta Tak Harus Memiliki

Pernah tidak pembacaku mengalami hal itu? Wah aku sudah kayak dokter cinta (yang jelas bukan dokter kejiwaan) aja nih kesannya. Hahaha… Buat pembaca yang pernah mengalaminya boleh kok di share via comment.

Cinta” memang terkadang membuat kita buta. Bahkan cinta terkadang bisa membuat manusia melakukan hal di luar batas kewajaran. Saking cintanya sering pula kita dengar berita orang bunuh diri dengan loncat dari gedung bertingkat atau gantung diri di pohon tomat (mirip lagunya Yudi Kresna). Hahaha lebai ditambah aneh gila rasanya imajinasiku ini.

Cinta” itu urusan perasaan bukan urusan logika. Kan ada tuh lagunya “cinta… tak kenal dengan logika.” Menurut saya pribadi ada benar dan ada tidaknya. Memang cinta itu urusan perasaan namun logika itu juga penting agar kita tidak dibutakan oleh cinta. Betul gak? Nah buat yang sedang dimabuk asmara dan dimabuk cinta (apalagi mabuk miras jelas tidak boleh ya) jangan sampai dibutakan oleh “cinta”. Kalian harus tetap berpikir dengan logika agar sekiranya kalian tetap dapat membedakan mana yang baik dan yang buruk. (bahasa saya sok bijak meskipun ya sulit nerapinnya, wkwk)

Yang namanya “cinta” emang datangnya kadang gak diduga-duga. Bisa datang kapan saja dan dimana saja. Seperti sebuah misteri kadang kita bisa mengalami yang namanya “cinta tak harus memiliki.” Pernah gak mendengar sebuah cerita seorang anak dijodohkan oleh orang tuanya. Padahal kita sangat mencintainya namun ternyata dia harus menuruti orang tuanya dan menikah dengan seseorang yang dijodohkan olehnya. Mungkin jika mengalami hal itu kita menjadi sedih dan berharap tidak mengalaminya.

Namun jangan sedih ya pembacaku karena terkadang rasa cinta seperti itu bisa lebih indah dari apa yang kita bayangkan. Memang mungkin berat mengalami hal tersebut tapi bila terjadi hal demikian kita masih bisa menjadi teman untuknya kan?! Tentunya kita ingin kekasih yang kita cintai selalu tersenyum kan? Nah, maka dari itu jangan tinggalkan dia dalam situasi seperti itu. Justru di saat seperti itulah kita harus memberi dukungan dan tetap selalu ada untuknya. 

“Percayalah kasih…. cinta tak harus memiliki…. walau kau dengannya…”

Pernah dengar kan lirik lagu diatas. Nah, kita pun masih bisa mencintainya meski dirinya sudah bersama yang lain. Pernah dengar gak istilah “cinta tak bersyarat”? Nah salah satu “cinta tak bersyarat” itu adalah dengan menerima kondisi kekasih kita apa adanya. Salah satunya ya “cinta tak harus memiliki” itu. Tidak ada syarat untuk kita harus memilikinya seutuhnya. Beneh kan???

Coba kalian renungkan sejenak, mengapa Hyang Widhi menciptakan “cinta” di antara manusia? Jawabannya adalah karena cinta itu ada untuk melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Cinta dua manusia itu ada karena kita diharapkan saling mengisi kekosongan hati satu sama lain dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Karena itulah cinta harus menerima kekurangan dari pasangan. Jika cinta hanya memandang kelebihan saja, maka manusia bisa hidup sendiri dengan cinta. Karena itu terimalah “cinta” kita apa adanya.

            Jika Jayaprana dan Layonsari saja bisa mengabadikan cinta mereka, meski banyak rintangannya? Mengapa kita tidak hanya karena tidak bisa memilikinya? Mari pikirkan dengan hati kita bukan dengan ego kita. Salam jumpa di tulisanku lainnya 😁

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JIKA MAU MENGAJAR JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR

Pemimpin Pembelajar dalam Pengelolaan Sumber Daya (Koneksi Antarmateri)

Koneksi Antar Materi - Modul Kesimpulan dan Refleksi untuk calon guru penggerak