Waktu untuk diri sendiri

me time


Tulisan ini terangkai dari hasil mengamati dan terinspirasi oleh teman Guru Ibu Ni Luh Wiwik Juniati saat bercengkraman dengan siswa-siswi Kelas 7C dalam menghias kelas untuk mengisi Kegiatan Tengah Semester.

Jumat 24 Maret 2023, saat saya berkolaborasi dengan siswa-siswi Kelas 9C tak sengaja mata ini tertuju ke ruang Kelas 7C yang berada dekat ruang Kelas 9C. Saya mengamati wali kelas 7C Ibu Ni Luh Wiwik Juniati bersama anak didiknya. Kemudian saya terpantik dengan kata “me time” bagi seorang guru.

Istilah tersebut perlu direnungkan lebih mendalam, tentang kapan dan seperti apa “me time”. Istilah “me time” memiliki makna waktu untuk diriku sendiri yang lebih mengarah kapan dan bagaimana aku memanfaatkan waktu tersebut untuk memperoleh kebahagiaan untuk diriku sendiri. Dari renungan ini justru saya berselancar ke teori stoikisme, “temukan kebahagiaan pada diri sendiri”. Kebahagiaan yang sejati bukan diperoleh dari orang lain.

Dari hasil perenungan tersebut, setiap saat waktu yang terus berjalan ini sebenarnya adalah “me time”. Mengapa? Karena saya adalah raja, sayalah yang mengendalikan diri saya sendiri. Sehingga setiap saat adalah “me time”. Ketika saya memiliki peran sebagai guru dengan waktu kerja formal antara pukul 07.00 sampai dengan 13.15 yang secara umum bekerja untuk melayani anak didik agar mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik, sebenarnya itu juga “me time”. Nampaknya saya bekerja untuk orang lain namun jika diarahkan lebih mendalam, semuanya kembali pada diri saya sendiri. Ketika kita mampu membahagiakan orang lain, sebenarnya kita mencapai kebahagiaan diri kita sendiri. Ketika menjadi guru adalah panggilan hati, bukan sematamata sebuah pekerjaan yang dibayar.

Waktu formal dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 13.15 tersebut ternyata tidak cukup untuk melaksanakan tugas sebagai pendidik. Bagi saya, selama tubuh ini masih bisa berpikir dan fisik belum tidur ternyata waktu itu sebenarnya adalah mendidik. Ketika waktu kita bersama keluarga kita, bersama orang yang kita cintai juga bagian dari proses mendidik.

Dari renungan inilah, saya mengambil kesimpulan bahwa setiap saat adalah “me time”. Entah bekerja, entah bersama keluarga, entah bersama masyarakat, sebenarnya adalah “me time”, karena semuanya akan kembali pada akhirnya untuk diriku sendiri.

Terkadang sambil bercengkrama dengan istri di rumah dan ada karya yang dikirim anak didik di grup whatsapp maupun sosmed lainnya. Kemudian saya segera memberi respon feedback, itu pun bagi saya adalah “me time”. Kebahagiaan yang dirasakan anak didik atas penghargaan baik melalui umpan balik, mengunggah karya di sosmed itu pun bagian dari kebahagiaanku. Itulah "waktu saya". Apalagi di saat tidur, yang memberi penghargaan bagi tubuh secara fisik terhadap diri sendiri, juga “me time”.

Pesan moral dari pembahasan ini, ciptakanlah setiap saat dalam hidup kita sebagai “me time” yang berkualitas. Karena waktu yang sebenarnya adalah saat ini. Waktu kemarin menjadi sejarah dan waktu besok adalah misteri.

26 Maret 2023

“Terkadang inspirasi hadir ketika kita peka akan lingkungan sekitar” 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JIKA MAU MENGAJAR JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR

Pemimpin Pembelajar dalam Pengelolaan Sumber Daya (Koneksi Antarmateri)

Koneksi Antar Materi - Modul Kesimpulan dan Refleksi untuk calon guru penggerak