MENINGKATNYA KETERAMPILAN MEMBACA SISWA SMP NEGERI 4 ABANG MELALUI MEDIA KOMUNIKASI WHATSAPP DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM "DEEP TALK"

 

MENINGKATNYA KETERAMPILAN MEMBACA SISWA SMP NEGERI 4 ABANG MELALUI MEDIA KOMUNIKASI WHATSAPP DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM "DEEP TALK"

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH:

I GEDE AMBARAYANA

NIPPPK. 19880704 202221 1 003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TAHUN 2025

 

 

 

 

1.      Profil Singkat

Nama lengkap                                        : I Gede Ambarayana,S.Pd.

Institusi                                                    : SMPN 4 Abang

Mata pelajaran yang diampu              : Bahasa Indonesia

 

Riwayat pendidikan:

 

1)     SDN  2 Bungaya Kangin Lulus Tahun 2000

 

2)     SLTPN 2 Amlapura Lulus Tahun 2003

 

3)     SMAN 2  Amlapura Lulus Tahun 2006

 

4)     Universitas Mahasaraswati Denpasar Lulus Tahun 2009

 

5)     Pendidikan profesi Guru di Univ. Pakuan Lulus Tahun 2021

 

Pengalaman mengajar:

 

1)     Guru SD di SDN 2 Pidpid dari Tahun 2007 s.d.  Juni 2022

 

2)     Guru Mapel Bahasa Indonesia di SMPN 4 Abang dari Juni 2022 sampai dengan sekarang


2.      Deskripsi Inovasi Pembelajaran

Permasalahan mendasar dalam pembelajaran membaca di SMP Negeri 4 Abang sangat kompleks, melibatkan aspek minat, kemampuan, hingga lingkungan belajar. Untuk mengatasinya, diperlukan strategi yang terstruktur dan komprehensif.

1.      Rendahnya Minat dan Motivasi Membaca. Rendahnya minat membaca pada siswa SMP Negeri 4 Abang bukan hanya soal ketidaksukaan, tetapi juga ketidakpahaman akan relevansi. Mereka melihat membaca sebagai tugas akademik yang terputus dari realitas hidup mereka. Teks-teks tradisional yang monoton dan kaku sering kali gagal membangkitkan rasa ingin tahu, sehingga kegiatan membaca terasa seperti beban yang membosankan dan tanpa makna.

2.      Kurangnya Keterampilan Membaca Kritis. Permasalahan ini lebih dalam dari sekadar kemampuan memahami teks. Siswa sering kali hanya "menelan" informasi tanpa mengolahnya. Mereka tidak dilatih untuk bertanya, menganalisis, dan mengevaluasi. Akibatnya, mereka kesulitan membedakan fakta dan opini, menemukan makna tersirat di balik kata-kata, atau bahkan mengevaluasi kredibilitas sumber informasi yang mereka baca.

3.      Lingkungan Pembelajaran yang Kurang Interaktif. Model pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru membuat siswa menjadi pendengar pasif. Mereka jarang mendapat kesempatan untuk berpendapat, berdiskusi, atau berdebat.

 

3.      Dampak dan Evaluasi

Dalam implementasinya, strategi pembelajaran melalui media WhatsApp dengan pendekatan "deep talk" ini menghadapi serangkaian tantangan yang signifikan dan saling berkaitan, menuntut perhatian mendalam agar tujuan utamanya dapat tercapai. Adapun beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain.

1.      Keterbatasan Akses Internet dan Perangkat. Salah satu kendala paling mendasar adalah kesenjangan digital yang ada di antara siswa SMP Negeri 4 Abang. Meskipun WhatsApp sangat populer, tidak semua siswa memiliki akses internet yang stabil dan memadai, terutama di daerah yang jaringannya lemah. Selain itu, tidak semua siswa memiliki perangkat ponsel pintar yang mumpuni untuk mengunduh materi bacaan, melihat infografis, atau mengirimkan voice note yang panjang. Keterbatasan ini secara langsung menghambat partisipasi aktif dan setara, menciptakan jurang antara siswa yang dapat mengikuti pembelajaran dengan lancar dan mereka yang kesulitan.

2.      Manajemen Waktu Pribadi Siswa. Siswa SMP Negeri 4 Abang memiliki jadwal yang padat, mencakup berbagai mata pelajaran, tugas, pekerjaan rumah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Strategi pembelajaran ini, meskipun fleksibel, tetap menuntut disiplin diri dan kemampuan manajemen waktu yang kuat. Tanpa bimbingan yang tepat, siswa akan kewalahan dalam menyeimbangkan waktu untuk membaca, berdiskusi di grup WhatsApp, dan menyelesaikan tugas-tugas dari mata pelajaran lain.

3.      Mempertahankan Motivasi Belajar Jangka Panjang. Pada awalnya, penggunaan WhatsApp sebagai media pembelajaran mungkin terasa menarik dan menyenangkan karena kebaruan dan familiaritasnya. Namun, tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan motivasi tersebut dalam jangka panjang. Rasa bosan dapat muncul jika materi dan aktivitas yang diberikan kurang bervariasi.

4.      Kurangnya Keterlibatan dan Dukungan Orang Tua. Meskipun pembelajaran ini berpusat pada siswa, dukungan dari orang tua sangat vital, terutama dalam lingkungan daring. Kurangnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya metode ini, atau ketidakmampuan mereka untuk mendampingi dan memantau anak, dapat menjadi hambatan besar. Tanpa dukungan dari rumah, siswa mungkin kesulitan dalam mengatasi masalah teknis, mengatur waktu belajar, atau merasa kurang termotivasi.

5.      Keterampilan "Deep Talk" yang belum memadai pada Guru. Keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada kompetensi guru dalam memfasilitasi "deep talk". Berbeda dengan mengajar konvensional, memfasilitasi diskusi daring yang mendalam membutuhkan serangkaian keterampilan khusus, seperti kemampuan mengajukan pertanyaan terbuka yang memantik pemikiran kritis. Kecakapan dalam mengelola dinamika diskusi grup, termasuk menyemangati siswa SMP Negeri 4 Abang yang pemalu dan mengendalikan siswa yang terlalu dominan.

 

 

4.      Dampak dan hasil

Dalam praktik baik ini, saya menerapkan strategi yang menjawab permasalahan tersebut sehingga mencapai keberhasilan. Di tahap persiapan, saya akan  mengimplementasi strategi pembelajaran dengan menitikberatkan pada tahap perancangan yang strategis dan holistik, yang berfungsi sebagai cetak biru operasional di lapangan. Aksi perdana yang esensial adalah membangun ekosistem komunikasi digital yang terkelola, yaitu dengan membentuk grup WhatsApp kelas yang tidak hanya menjadi medium penyaluran informasi, tetapi juga lingkungan yang aman dan kondusif berkat penetapan norma-norma interaksi yang jelas sejak awal.

Seiring dengan pembentukan wadah ini, saya mengemban tanggung jawab untuk mengkurasi materi literasi yang tidak sekadar beragam dalam format mulai dari artikel ringkas yang viral, opini substantif, cerita fiksi inspiratif, hingga infografis komprehensif namun juga relevan secara kontekstual dengan isu-isu terkini atau minat demografi siswa, sehingga mampu menumbuhkan daya tarik otentik. Kerangka materi ini kemudian diintegrasikan ke dalam desain pedagogis yang dinamis, di mana aktivitas pembelajaran interaktif seperti pertanyaan pemantik yang merangsang dialog intelektual, diskusi kelompok berbasis kasus untuk melatih pemecahan masalah, atau proyek kolaboratif yang menuntut kerja tim disiapkan untuk mengorkestrasi keterlibatan aktif siswa. Seluruh arsitektur kurikulum mini ini diperkuat oleh pengembangan panduan fasilitasi "deep talk" yang dirancang secara spesifik dengan berbagai pertanyaan sebagai alat esensial bagi guru untuk menavigasi percakapan dari tingkat pemahaman tekstual menuju analisis reflektif yang menghubungkan bacaan dengan kerangka berpikir dan narasi personal siswa SMP Negeri 4 Abang.

Pada tahap pelaksanaannya, proses implementasi strategi ini dimulai dengan peluncuran modul literasi digital bisa berupa ebook atau bacaan pdf secara rutin. Guru secara strategis membagikan materi bacaan melalui grup WhatsApp setiap hari atau secara berkala, sesuai dengan alur kurikulum. Siswa kemudian memasuki fase jeda reflektif di mana mereka secara mandiri menyerap informasi, menelaah poin-poin penting, merumuskan pertanyaan, dan membuat catatan pribadi sebagai landasan awal untuk diskusi. Setelah siswa memiliki bekal pemahaman awal, guru bertindak sebagai stimulator pemikiran dengan secara proaktif mengorkestrasi sesi "deep talk", meluncurkan pertanyaan pemantik yang dirancang khusus untuk memicu dialog kritis dan menghubungkan isi teks dengan pandangan pribadi siswa.

 

5.      PERUBAHAN/ PELAJARAN

Dari implementasi strategi ini, telah tercatat sebuah transformasi signifikan dalam pengembangan literasi siswa SMP Negeri 4 Abang diharapkan tidak hanya terjadi peningkatan pada pemahaman isi bacaan, kemampuan analisis, dan interpretasi, tetapi juga pada kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta keterampilan sosial yang diasah melalui dialog yang terstruktur.

Dengan adanya praktik baik ini, saya membawa harapan besar untuk peningkatan ketrampilan literasi di SMP Negeri 4 Abang. Harapan terbesar adalah siswa dapat beralih dari pembaca pasif menjadi pembaca kritis. Melalui diskusi "deep talk", mereka akan terdorong untuk menganalisis gagasan, menafsirkan makna tersirat, dan mengevaluasi informasi secara mandiri. Keterampilan ini tidak hanya berguna untuk pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga untuk membantu mereka menjadi individu yang lebih cakap dalam memproses informasi di era digital. Selain itu, kolaborasi dan diskusi di grup WhatsApp akan melatih keterampilan komunikasi dan sosial, membuat mereka lebih terampil dalam mengemukakan pendapat, mendengarkan, dan menghargai pandangan orang lain.

Bagi guru, program ini diharapkan dapat membuka wawasan baru tentang metode pengajaran yang inovatif. Guru dapat mengubah peran dari sekadar pemberi materi menjadi fasilitator dan manajer komunitas belajar. Dengan memanfaatkan WhatsApp, guru bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan interaktif, bahkan di luar jam pelajaran formal. Melalui pendekatan "deep talk", guru diharapkan mampu memotivasi siswa untuk berpikir lebih dalam dan tidak hanya menjawab pertanyaan di permukaan. Ini memberi kesempatan bagi guru untuk memahami cara berpikir siswa dan memberikan bimbingan yang lebih personal.

Bagi sekolah, implementasi program ini diharapkan dapat menempatkan sekolah sebagai institusi yang adaptif dan inovatif dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Lebih dari itu, keberhasilan program ini diharapkan dapat meningkatkan prestasi akademik dan non-akademik siswa. Keterampilan membaca kritis yang lebih baik akan berdampak positif pada seluruh mata pelajaran. Selain itu, dengan meningkatnya minat baca dan kemampuan berkomunikasi, reputasi sekolah akan meningkat dan menarik minat orang tua dan calon siswa. Sekolah akan dikenal sebagai tempat yang tidak hanya menciptakan siswa cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki keterampilan sosial dan berpikir kritis yang kuat, yang sangat dibutuhkan untuk masa depan.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JIKA MAU MENGAJAR JANGAN PERNAH BERHENTI BELAJAR

Pemimpin Pembelajar dalam Pengelolaan Sumber Daya (Koneksi Antarmateri)

Misi KKN di Desa Datah karya Ni Made Sri Galih Gunabhiksana